Peta Sebaran Nudibranch di Selat Sempu: Kuncup Bunga dari Hobi yang “Terlanjur Dalam”

2021 Essay

Pertama – tama, kita kembali menuju Tahun 2017 disaat kali pertama saya mencelupkan kepala saya di Selat Sempu. Okay… Pada satu saat dikala saya mengikuti kegiatan transplantasi terumbu karang di Pantai Tiga Warna, tiba – tiba saja pandangan mata saya tertuju kepada sepasang benda kecil berwarna keunguan yang berdiam di antara pasir cokelat pucat. Sejenak, saya berenang mendekat untuk mengamati benda tersebut, dan diluar dugaan saya, benda tersebut merupakan makhluk hidup penghuni dasar perairan yang bernama nudibranch! Sejenak saya hanya bisa geleng – geleng dan sedikit tidak percaya bahwa benda seperti ini ada di Selat Sempu! Sayangnya waktu itu saya belum mempunyai kamera dan hanya bisa mengagumi dari dekat saja.

Vercornia simplex, itu adalah nama dari sepasang nudi berwarna ungu yang saya temukan waktu itu. Nudibranch yang kelak tidak saya temui kembali hingga di awal Tahun 2020, dimana saya akhirnya berhasil mendapatkan foto sepasang hewan ini sedang berkelon di bebatuan.

Okay… Balik ke 2017. Sekitar seminggu setelah penyelaman pertama itu, saya kembali menyelam di Waru -waru, tempat yang agak berbeda dengan Tiga Warna, namun masih di Selat Sempu. Kala itu saya tidak sengaja menemukan nudi yang berukuran cukup besar, dengan warna yang lebih rame dan bentuk yang lebih aneh daripada yang saya temukan di Tiga Warna. Nudi berukuran sekepalan tangan, memiliki warna kombinasi oranye, hitam dan kelabu yang kontras dengan tubuh yang penuh tonjolan, cukup membuat saya untuk berkata “Jingan, coba nek aku gowo kamera”.

Nudi yang saya temui pada waktu itu adalah Phyllidia varicosa, yang kelak saya ketahui sebagai salah satu nudi yang paling umum di Selat Sempu. Sangat umum sampai saya selalu merasa aras – arasen untuk mengambil fotonya ketika bertemu karena saking umumnya.

Phyllidia varicosa salah satu jenis nudibranch pertama yang berhasil saya rekam melalui kamera saya

Wah… lama – lama seperti ini saya merasa gemes juga. Jarak sebulan setelah penyelaman itu, saya nekat untuk terbang menuju Nusa Dua, tepatnya menuju Nautica Dive Center, dimana Dive Master saya berada. Yang saya tahu, Dive Master saya seringkali mengunggah foto tentang nudibranch di akun media sosialnya. Singkat cerita, setelah sekian lama bertanya sana – sini tentang gear, teknik foto, sampai kiat – kiat mencari barang seukuran potongan kuku bernama nudibranch di luasnya dasar laut, saya merasa otak saya cukup mendidih. Susah? Mungkin… Ah… atau mungkin karena saya belum mencoba saja. Tetapi yang jelas, melihat foto – foto nudibranch berwarna – warni yang tergantung di dinding Nautica Dive Center, saya jadi bertekad, dan bilang kepada diri saya bahwa “saya nanti juga punya yang seperti ini di Selat Sempu”.

Sebulan berlalu semenjak kunjungan saya di Pulau Dewata, dan saya sekarang berada di atas kapal, bersiap – siap untuk mencari nudibranch dengan kamera Olympus TG-5 di tangan. Ya, setelah pertemuan itu, Dive Master saya menyarankan untuk membeli kamera tersebut, karena cocok untuk penyelam yang on-budget namun memiliki hasil gambar dengan kualitas yang sangat mumpuni. Seketika setelah saya berhasil mencapai dasar air, saya langsung dicegat oleh sepasang makhluk kecil yang sangat mirip dengan kue pukis, namun memiliki tanduk dan insang. Ya, sepasang makhluk itu merupakan nudibranch Hypselodoris tryoni, nudibranch kedua yang kelak juga saya ketahui sebagai salah satu jenis yang paling umum di kawasan ini. Tanpa berpikir lama langsung saja saya gunakan kamera saya untuk menjepret hewan ini dari segala sisi. Maklum, masih baru pertama pegang kamera milik sendiri.

Pada penyelaman tersebut, saya sempat menemukan dua jenis nudibranch lain yang berhasil saya foto. Berangkat dari sana, saya semakin semangat untuk mencari tahu, berapa sih sebenarnya jumlah jenis nudibranch yang ada di Selat Sempu? Dari penyelaman perdana ini saya sangat merasa PD (percaya diri) bahwa menemukan nudibranch bukan lagi suatu hal yang sulit, apalagi di selat sempit dengan luasan pantai nya yang dapat dijangkau dengan mudah ini. Benarkah demikan?

Woo… tunggu dulu, Ferguso!

Nyatanya, dari sekian banyak penyelaman yang saya lakukan, mungkin hanya seperempat dari penyelaman itu dimana saya dapat bertemu dengan kelompok hewan yang satu ini. Bahkan ketika Dive Master saya mengajak Paul, rekan penyelamnya yang berasal dari Australia jauh – jauh datang ke Selat Sempu untuk mencari nudibranch, keberuntungan samasekali tidak memihak kami. Dari sekian jam penyelaman di empat titik berbeda, satu – satunya hal yang menarik bagi kami adalah seekor frogfish yang sedang berdiam diantara kumpulan alga. Itupun kita temui waktu istirahat makan siang di rumah apung. Ditengah sedikit kekecewaan itu, si Paul mendekati saya dan bilang “It’s Okay, Sometimes you’re lucky, and sometimes you’re not. But that’s the most fun way of enjoying it. Or else you’ll get bored” dengan logat Australi-nya yang tebel. Wah, saya rasa-rasa bener juga ini omongan si Bapak. Mungkin karena pengalamannya bertahun – tahun menyelam di seluruh dunia dengan dive log yang sudah sampai kececer – cecer, dia berusaha menyemangati saya, seorang penyelam amatir dengan jam terbang yang masih tipis.

Phyllodesmium poindimei, cukup jarang ditemukan.

Dari sini mindset saya sedikit berubah, sebelumnya sirah saya dibikin sedikit mumet karena data yang stagnan, dibandingkan dengan effort intens yang telah saya lakukan. Mulai tahun 2018, saya niatkan diving untuk mencari apapun yang lewat di depan saya, nudibranch hanya saya anggap bonus saja. Saya rasa, perubahan ini yang cukup menggerakkan cara berpikir saya, tidak hanya di dunia penyelaman, bahkan sampai ke dunia angan – angan saya yang sedikit abstrak. Sedikit – demi sedikit, saya menyadari bahwa beberapa bulan kebelakang, saya terlalu mengkerdilkan dunia penyelaman, dimana setiap kali saya menyelam, tujuannya harus bertemu nudibranch! Sehingga saya menjadi lebih sering kecewa karena hal tersebut.

Beberapa bulan kedepan, semakin saya menyelami sudut -demi sudut selat ini, semakin saya pahami bahwa kehidupan bawah air Selat Sempu sangat kompleks dan sangat indah untuk dilewatkan. Selat ini ternyata menyimpan “hutan” soft coral, ikan – ikan aneh penghuni dasar perairan yang dulunya hanya saya lihat melalui gambar – gambar di buku Pak Gerard Allen, hingga pertemuan pertama dengan Ikan Napoleon dan melihat riuhnya kumpulan lumba – lumba disekitar kapal kami waktu melakukan penyelaman. Wah… Jiangkrik, selama ini saya kemana saja? Ditengah petualangan yang cukup seru itu, setahun berselang dan saya melihat bahwa data nudibranch saya dengan sendirinya nambah. Hingga pada Bulan Juli 2019, total sudah 45 spesies nudibranch (dan siput laut kerabatnya) berhasil saya rekam dan saya identifikasi keberadaannya di Selat Sempu.

Pencapaian ini membuat saya berpikir, “selanjutnya  apa?” “mau diapakan data ini?”. Sedikit demi sedikit, karena data yang saya kira sudak cukup ini, saya memberanikan diri untuk mencoba menulis jurnal, terutama jurnal dengan konsep inventarisasi yang lengkap dengan ilustrasi dan kelak jurnal ini dapat dipakai sebagai salah satu panduan identifikasi nudibranch di Selat Sempu. Wah, sepertinya menarik. Berbekal dengan kemampuan menulis seadanya dan hasil tanya sana-sini dengan Bapak-bapak dan Mas-mas yang sudah berpengalaman menulis jurnal ilmiah, saya akhirnya bertekad untuk menyelesaikan tulisan saya ini.

Eubranchus mandapamensis, menemukannya perlu kejelian.

Setelah hanya mengalami sekitar dua kali pen-cuek-an di tempat lain (notabene di tempat yang khusus menerima penelitian dengan tema kelautan dan perikanan), akhirnya tulisan yang bersumber dari data saya tahun 2017 – 2019 diterima dan dipublikasikan melalui penerbit Biotropika (Terima kasih banyak kepada Biotropika, sudah menerima tulisan saya yang sederhana ini) di tahun 2021. Padahal, di saat yang sama, data catatan nudibranch saya sudah berkembang hingga mencapai angka 59 jenis! Sebenarnya juga saya sedikit penasaran sampai saat ini, di dua tempat yang saya sebutkan sebelumnya, tulisan saya didiamkan tanpa konfirmasi apapun, sehingga tulisan ini sempat nganggur selama satu tahun. Saya yang masih amatir, sadar diri mungkin tulisan saya terlalu remeh untuk menjadi perhatian oleh para editor yang ada di kedua tempat tersebut. Tidak masalah, dunia penelitian biodiversitas kelautan memang terkadang suka guyon, kita anggap lucu saja. Sementara, pengalaman saya melalui Biotropika, saya justru dibimbing untuk membuat tulisan standar untuk jurnal ilmiah, hingga akhirnya jurnal penelitian saya mampu diterbitkan.

Hasil jurnal ini pun ternyata masih membuat saya berpikir “Habis ini mau ngapain lagi?”, hingga pada akhirnya saya melihat postingan Instagram Burungnesia pada tanggal 27 November 2021 tentang “Peta Burung Hyang” yang menampilkan lokasi penampakan burung di Dataran Tinggi Hyang berdasarkan hasil survey selama 4 hari yang ditampilkan melalui peta 3D dilengkapi dengan gambar – gambar jenis burung yang ditemukan. Postingan yang lewat di halaman muka instagram saya itu lantas membuat saya berpikir “Wah, bisa ini bikin yang seperti ini!”. Berbekal ilmu ekspress dari Google dan Youtube, akhirnya saya mampu membuat peta 3D Pulau Sempu dari yang awalnya saya blank sama sekali tentang pemrosesan peta. Dilengkapi dengan foto – foto hasil koleksi yang sudah dikumpulkan selama lima tahun, akhirnya dengan perasaan lega, melalui tulisan ini saya mempublikasikan peta sebaran nudibranch di Selat Sempu. Meski demikian, peta ini tidak menampilkan keseluruhan jenis nudibranch yang ada di Selat Sempu, bahkan tidak sampai separuhnya. Memang, saya sengaja biarkan demikian…

Peta dengan resolusi tinggi akan segera tersedia!

Bagi saya, secarik peta yang sangat sederhana di atas tidak hanya berisi mengenai jenis nudibranch dan sebarannya di Selat Sempu. Didalamnya saya menemukan hasil dari sebuah proses yang telah saya jalani selama lima tahun bersama orang – orang yang menakjubkan di tempat yang juga sama menakjubkannya! James Clear melalui bukunya yang berjudul Atomic Habits: Tiny Changes, Remarkable Results mengatakan bahwa perubahan sekecil 0,01% perharinya selama setahun pun akan memberikan perubahan sebanyak 3%, dan saya yakin peta ini merupakan secuil proses dari rangkaian proses 0,1% yang telah saya jalani selama ini. Pada akhirnya, ujung tulisan ini menggiring saya menuju pertanyaan yang sama yang saya temui selama lima tahun kebelakang, yakni “Kira- kira selanjutnya apa?”.


Leave a Reply

Your email address will not be published.